Asrama yang berucap “selamat datang”

Tiba-tiba nafasnya tersengal, ia mulai kesulitan menarik nafas. Padahal baru saja semenit yang lalu kami bercanda dan tertawa bersama, membahas banyak hal yang lucu-lucu. Membahas perbedaan suku dan bahasa yang aneh.

Satu mata menyudutkanku, sementara yang lain sibuk membantunya mengatur nafas. Dan aku memilih ikut larut membantunya semampuku.

“kamu sih bercandanya keterlaluan” katanya dipenuhi emosi.

“begini kan jadinya… hayo tanggung jawab” masih dengan amarah yang sama ia terus menghardikku dengan tatapan menyalahkan.
“Iyah” jawabku singkat sambil menahan getaran tubuh yang tiba-tiba muncul. Aku ketakutan.

Aku merasa, aku masih terlalu kecil untuk menjadi sebuah sebab yang akupun tak tahu mengapa tiba-tiba ia kambuh dari penyakit sesak nafasnya. Di ruangan kamar yang berangsur-angsur menyepi aku terdiam menatap langit, memutar rekam jejak tentang apa sesungguhnya yang sedang terjadi ini.

Sebagian yang lain kembali ke kamar masing-masing, sebagiannya lagi masih membantunya menenangkan diri dari sesak nafasnya. Kemudian beristirahat. Dan aku,jangan tanyakan bagaimana denganku. Aku sibuk dengan perasaan bersalahku padanya.

Selepas ashar ia menghampiri kesendirianku yang masih dengan perasaan bersalahku.
“Udah… ngga usah dipikirin, mba ngga apa-apa kok!”
“Tapi aku minta maaf ya mba udah bikin sesak nafasnya mba kumat?”
“Bukan sama kamu kok, emang lagi kumat ajah asmanya”
“Oooohhh. Hmmm”
Kamipun bercanda lagi seperti sedia kala. Sudah sama-sama saling melepaskan beban dan saling memaafkan.

Selepas maghrib, seseorang menghampiriku di kamar.

“Kamu dipanggil pembimbing asrama untuk menghadap” katanya tegas. Dialah si pemilik mata tajam yang menyudutkanku tadi siang.

“Dimana?”

“Di rumahnya”. Katanya sambil pergi keluar kamarku.

Setelah bersiap akupun keluar kamar menuju rumah pembimbing asrama putri. Aku rasa, jalan menuju rumahnya sudah benar. Namun, entah bagaimana tiba-tiba tangan kekar memegang pergelanganku dengan kuat. “Kesini”. Aku diseretnya berlawanan arah, menuju sebuah lorong panjang samping asrama putri. Pada sebuah tembok asrama badanku ditekannya dengan kuat. Nafasku tersengal. Aku berusaha diam dan belajar mendewasakan diri. Usianya terpaut 3 kelas di atasku. Tapi aku tidak merasa takut sedikitpun. Aku tatap balik mata tajamnya yang sedari siang tadi selalu menyudutkanku. Bagaimanapun juga, aku tidak suka dibohongi.

“Aku sengaja membohongimu, panggilan pembimbing asrama putri itu hanya tipuan agar kamu mau ikut denganku”. Aku diam semakin terpojokkan, karena tangannya benar-benar mengunci gerak tubuhku.

“Jangan pernah sekali-kali membuat asmanya kambuh lagi, dan jangan pernah dekat-dekat dia lagi, dia sudah saya anggap kakak saya sendiri”.

“Awas kalau macam-macam!!!”

Ia mulai melepaskan cengkramannya, akupun beringsut mengambil nafas panjang. Yaelah, masalah gini ajah ampe harus ngajakkin aku ke lorong asrama segala pikirku. Ini apaan sih??? Tapi anehnya, kejadian ini membuatku justru merasa semakin keren. Bagiku, akulah pemenangnya. Dia takut kakak kesayangannya dekat denganku. Dan satu hal, aku bukan seorang pembohong. Masalah kayak gini, ngga lucu kalau harus menyergap orang tiba-tiba dengan pake cara bohong-bohong segala. Apalagi yang dia sergap adalah anak kecil yang baru ajah 5 hari belajar jauuuuhhhh dari emaknya.

“Ayo sekarang kamu ikut saya, pokoknya kamu harus minta maaf karena sudah membuat sesak nafasnya kambuh”

Diseretnya kembali aku ke dalam asrama memasuki sebuah kamar.

“Mba, dia mau minta maaf”. Haluuus banget suaranya.

“Iya Mba aku minta maaf ya, karena udah bikin asmanya Mba kambuh”

“Lho, kan tadi bukannya udah minta maaf???”. dudududududu

Angin sepoi-sepoi menyapa, adeeemmm rasanya. Tanpa berlama-lama lagi, aku merasa tugasku sudah selesai, titah sudah ditunaikan. Aku memilih kembali ke kamarku. Dengan wajah biasa seolah tidak ada apa-apa, bahkan aku berusaha menganggap masalah ini tiada. Maaf pun sudah kulayangkan untuknya, yang sudah menyudutkan aku di sebuah tembok asrama dengan badannya yang besar dan kekar. Tanpa harus meminta maaf ia sudah kumaafkan.

 

Sudah kutuliskan sebuah kenangan pada sebuah tembok. Terima kasih sudah menjadi saksi bisu dari menangnya seorang pahlawan sejati. wekwew…

Ini sudah aku anggap sebagai ucapan sambutan selamat datang darimu. Asrama Putri Tercinta.

 

#Salamrindu

#TheLittleBird

#PipitalitSangPengembara

Iklan
Dipublikasi di Tentang pipitalit | Meninggalkan komentar

Kangeun Rusun

Entah harus memulai dari mana untuk bisa melukiskan rindu yang tiba-tiba hadir memenuhi ruang qalbu. Aku yang berdiam dalam sunyi memilih menyendiri dan menenggelamkan diri dalam kesibukan berniaga. Kabar tentang pengajian rutin kamis malam dari grup pengajian masih membuat diri ini ingin segera berlari menuju lantai tempat si karpet di gelar. Tapi apa daya, jarak dan anak2 masih menjadi alasan ketidak hadiranku disana. Dan tentunya malam semakin larut menenggelamkan keinginan yang membuncah itu.

Minggu pagi rasa2nya masih ada kesempatan untuk berkunjung sambil ngajak anak2 bermain odong2. Satu dua kawan lama bisa aku temui sambil ngobrol ngalor ngidul melepas rindu. Sebagian masih dengan formasi yang sama dan sebagian yang lain telah berpindah tempat ke rumah yang lebih baik. Alhamdulillah. Ada juga yang sudah berbeda alam. Semoga Allah menempatkan mereka di tempat yang terbaik, tempat yang penuh dengan cahaya. Aamiin.

 

Dipublikasi di Tentang pipitalit | Meninggalkan komentar

Berebut Pelukan

“Mau peluuukkk depan, Ummmiiiii…..”

Dua lelaki kecil berebut pelukan hangat di atas kasur saat hendak menjemput mimpi-mimpinya… Tentu yang paling sering mengalah ya si kakak. Saya yang memang sudah tidak boleh tidur telentang lama-lama, harus memilih tidur miring ke kiri atau ke kanan. Dan secara otomatis kakak atau akang yang kemudian akan memeluk saya dari belakang atau di depan. Mereka saling berebut pelukan depan yang tentu lebih nyaman.

Saya sangat senang dan merasa menjadi ibu yang sangat luar biasa sekali saat setiap malam menemukan moment-moment indah itu.

Dipublikasi di Tentang pipitalit | Meninggalkan komentar

Kepakkan Sang Pipit

Sejatinya, kehidupan dunia hanyalah sebuah perjalanan, satu bahagian dari perjalanan panjang menuju kebahagiaan abadi. Tak ada yang abadi di bumi ini. Perjalanan masih sangat panjang. Kita tak mungkin berhenti pada satu titik kehidupan, di persimpangan jalan akan selalu ada tempat untuk bersinggah sementara. Setelah itu, engkau harus melanjutkan perjalanan. Tak peduli dimana pun engkau singgah, jika saatnya tiba engkau harus pergi, maka pergilah. Sayapmu harus terus diasah agar memiliki kemampuan terbang yang mumpuni. Kasih sayang, cinta, rasa kekeluargaan yang muncul saat engkau singgah harus engkau bawa terbang tinggi, simpanlah di langit dan cukup dengan menamakannya “kenangan”. Saat rindu menyeruak cukup kau tengadahkan wajahmu ke langit. Bukankah setiap pertemuan selalu berjodoh dengan perpisahan?

Perjalanan berikutnya harus benar-benar dilalui meskipun sulit. Persinggahan ini telah membawaku pada satu titik bernama keluarga. Tetangga yang begitu banyak. Satu atap yang dihuni puluhan kepala keluarga telah menciptakan sahabat-sahabat yang sangat luar biasa hadir dalam kehidupanku. Aku yang tiga tahun pertama lebih memilih berdiam dalam sangkar, akhirnya menemukan banyak kerabat di satu tahun terakhir. Mereka begitu luar biasa, meski tidak terlahir dari rahim yang sama tapi aku merasa mereka bagian dari keluarga.

Sanak famili sudah tentu yang utama,tapi kehadiran mereka menciptakan rasa yang sama seperti keluarga.

Aku sangat bersyukur, karena sudah sepatutnya aku mensyukurinya. Malu rasanya jika masih ada Nikmat Tuhan yang aku dustakan.

Dua Minggu lagi. Semoga aku mampu. Melangkah. Meski berat. Waaahhhh. Aku pasti merindukan kalian. Sangat. Sungguh. Jika masih ada pilihan untuk tetap singgah disini. Mungkin aku akan mengambilnya. Sayangnya takdir berkata lain. Aku harus melanjutkan perjalanan. Mengelilingi bumi yang masih begitu luas ini….

Semoga gerimis enggan mengiringi perpisahan kita. Karena aku tak ingin sapu tanganku dibanjiri kesedihan.

 

Dipublikasi di Tentang pipitalit | Meninggalkan komentar

Kisah Sang Tita

Kisahnya seperti dalam sinetron. Bahkan lebih rame daripada sinetron. Kalo pernah nonton sinetron tukang bubur naik haji yang sudah mencapai ribuan episode itu atau sinetron ank jalanan yang lagi ngehits di kalangan anak muda, dijamin kisah ini lebih seru dari dua sinetron ga mutu yang saya sebutkan tadi.
Kisahnya bahkan harus sampai berurai air mata dan diliputi sedikit mistis yang aneh.
Hahahaha
Tapi belum akan saya kisahkan dulu karena belum mendapatkan izin dari sang aktris..
Pissss boyennnkkkk
hahahahah

Dipublikasi di Tentang pipitalit | Meninggalkan komentar

Rumah Itu

Hampir setahun yang lalu, saya yang sudah membuahkan dua orang bocah yang gagah-gagah akhirnya melambaikan tangan pada kamera. Rasa-rasanya ingin berhenti sejenak dari rutinitas yang cukup menguras energi dan pikiran. Fokus melukis senyuman di mulut bayi-bayi kecil yang lucu dan menggemaskan. Tanpa gangguan apapun, tanpa harus berlari membagi waktu kesana-kemari yang terkadang tidak membuahkan hasil yang menggembirakan.

Sore itu, hujan datang begitu deras di kedua pipi saya, membuat kedua mata saya lebam kemerahan. Tangis itu tak lagi sanggup dibendung. Beruntung lelaki yang baik hati itu dengan penuh cinta dan kesabaran menyodorkan bahunya, jadilah saya yang sedang dalam kondisi rapuh serapuh-rapuhnya bersandar padanya, memeluknya erat, sangat erat, tergugu tiada henti. Tangan lembutnya membelai kepala saya dengan damai. Alhamdulillah.

Lelakiku tak pernah mengucapkan sepatah katapun saat kisah luka hati ini membuncah begitu saja, meluncur deras dari mulut ini tiada henti. Ia hanya mengangguk, tersenyum, dan memberi kekuatan dengan kedipan yang menentramkan. Beruntung rasanya memiliki suami sepertinya.

Rumah itu, rasanya tak sanggup lagi saya jaga dengan baik. Rasanya seperti dkhianati, tapi mungkin tidak, karena saya yakin mereka tidak pernah bermaksud mengkhianati. Mungkin saja saya sedang membutuhkan waktu berhenti sejenak sampai pada batas waktu yang tidak bisa dipastikan. Sebentar atau lama. Saya tidak tahu.

Puncak rasa pahit itu bermula saat saya merasakan kesendirian yang berkepanjangan. Semuanya saya kerjakan sendiri. Menyiapkan tempat, mengundang acara, menyiapkan konsumsi, menyiapkan transportasi, menjadi MC bahkan menjadi pemateri sekaligus. Belum harus mengkondisikan anak-anak yang luar biasa tingkah lakunya itu, ditambah dua anak saya yang menangis, belum ini, belum itu. Begitu setiap bulannya setiap ada agenda pembinaan orang tua. Rasanya kepala saya mau pecah. Tapi beberapa waktu saya berusaha menikmatinya. Bahkan di saat beberapa relawan datang dengan sms atau wa yang tampak mengajak saya berdebat tentang program-program yang saya rencanakan dan saya lakukan yang mungkin kurang berkenan di mata mereka. Saya tetap menikmatinya.

Hampir setiap hari pintu rumah saya digedor-gedor orang. Tampak seperti teror yang menyebalkan. Para orang tua dan anak-anak itu meminta jatah uang yang mereka dapatkan dari pemerintah agar bisa diambil saat itu, padahal saya sudah menjadwalkan agar mereka mengambil uang satu bulan satu kali, biar ga cepet habis tabungannya. Berbagai alasan mereka kemukakan, dari mulai sakitlah, kebutuhan sekolah yang mendesak, butuh buat modal usaha, sampai ada saudara yang meninggal dunia. Tapi setelah saya kasih uang dan kroscek ternyata saya dobohongin. Gimana kagak kecewa coba…
Sampai-sampai minta uang jajan atau minta uang buat nambal sepeda pun anak-anak itu gedor-gedor rumah saya dengan kerasnya. Disinilah saya mulai merasa Privacy saya terganggu. Karena saya butuh istirahat. Maaf kalau saya egois.

Saya akhirnya melambaikan tangan. Dan ini bulan kedelapan saat saya memutuskan untuk melakukan itu. Meski tidak berhenti total, karena saya masih memantau mereka dari jauh, masih membebaskan mereka dari razia satpol pp, masih memikirkan solusi dari masalah yang ada, seperti mencari solusi buat anak perempuan yang sedang mengidap HIV. Saya tahu kerja saya sekarang tidak segesit dulu, karena ada tiga lelaki di rumah kecil kami yang harus saya perhatikan dengan baik. Tapi saya masih care pada “rumah itu”. Rumah yang saya dan para relawan lain bangun bersama-sama. Baik secara fisik maupun rohani.

Sekarang saya memiliki kesibukan sendiri. Berdagang. Masih saya dengar dari kabar burung tentang rumah itu dan penghuninya. Saya kini mungkin sudah bukan siapa-siapa lagi di sana, tak pernah ada rencana kegiatan yang disampaikan lagi pada saya. Saya bahkan melewatkan malam berbuka puasa bersama mereka dan para relawan lama yang kemudian datang kembali. Seseorang mengatakan kepada saya, katanya saya seolah-olah sudah tidak perduli lagi kepada mereka. Selama ini tidak mengurus mereka dengan baik. Tampaknya saya sudah di cap yang tidak enak (hahahah suudzan). Tapi biarlah…

Saya tidak mengharapkan apa-apa dari apa yang saya lakukan untuk mereka selain mengharapkan kebaikan untuk mereka. Itu saja.

Sekarang saya punya kesibukan lain yang jauh lebih mengasyikkan. Berdagang membuat saya bertemu dengan anak-anak sekolahan yang unik. Dan saya menikmatinya…

Terserah orang lain mau ngomong apa tentang saya. Toh saya masih tetap cantik (kata anak saya “umi cantik”)… Hahahahah

Dipublikasi di Tentang pipitalit | 1 Komentar

Kangeun Nulis

Entah udah berapa lama saya tidak menulis disini. Rasanya kangeun luar binasah mencurahkan segala sesuatu yang terjadi di kehidupan ini. Penting ataupun ga penting yang penting gue nulis. Ga penting yang baca suka atau kagak karena itu ga penting buat sayah. Karep weeehhh…

 

Sayah juga kurang suka dengan tulisan yang rapi dan teratur, saya lebih suka menuliskan¬† sesuatu saketuk ketuknya di kiboard(teuteup yaa dari dulu ga pinter-pinter bahasa inggrisnyaaa) hahahahah… Bae aahhh…

 

HHaaaaahhhh… Sudah ada gangguan lageh… Lanjut lagi nanti.

kapan???

Kapan-kapan…

hahahahah

Dipublikasi di Tentang pipitalit | Meninggalkan komentar