Kangeun Rusun

Published Mei 13, 2017 by littlepipit

Entah harus memulai dari mana untuk bisa melukiskan rindu yang tiba-tiba hadir memenuhi ruang qalbu. Aku yang berdiam dalam sunyi memilih menyendiri dan menenggelamkan diri dalam kesibukan berniaga. Kabar tentang pengajian rutin kamis malam dari grup pengajian masih membuat diri ini ingin segera berlari menuju lantai tempat si karpet di gelar. Tapi apa daya, jarak dan anak2 masih menjadi alasan ketidak hadiranku disana. Dan tentunya malam semakin larut menenggelamkan keinginan yang membuncah itu.

Minggu pagi rasa2nya masih ada kesempatan untuk berkunjung sambil ngajak anak2 bermain odong2. Satu dua kawan lama bisa aku temui sambil ngobrol ngalor ngidul melepas rindu. Sebagian masih dengan formasi yang sama dan sebagian yang lain telah berpindah tempat ke rumah yang lebih baik. Alhamdulillah. Ada juga yang sudah berbeda alam. Semoga Allah menempatkan mereka di tempat yang terbaik, tempat yang penuh dengan cahaya. Aamiin.

 

Berebut Pelukan

Published Mei 13, 2017 by littlepipit

“Mau peluuukkk depan, Ummmiiiii…..”

Dua lelaki kecil berebut pelukan hangat di atas kasur saat hendak menjemput mimpi-mimpinya… Tentu yang paling sering mengalah ya si kakak. Saya yang memang sudah tidak boleh tidur telentang lama-lama, harus memilih tidur miring ke kiri atau ke kanan. Dan secara otomatis kakak atau akang yang kemudian akan memeluk saya dari belakang atau di depan. Mereka saling berebut pelukan depan yang tentu lebih nyaman.

Saya sangat senang dan merasa menjadi ibu yang sangat luar biasa sekali saat setiap malam menemukan moment-moment indah itu.

Kepakkan Sang Pipit

Published Januari 15, 2017 by littlepipit

Sejatinya, kehidupan dunia hanyalah sebuah perjalanan, satu bahagian dari perjalanan panjang menuju kebahagiaan abadi. Tak ada yang abadi di bumi ini. Perjalanan masih sangat panjang. Kita tak mungkin berhenti pada satu titik kehidupan, di persimpangan jalan akan selalu ada tempat untuk bersinggah sementara. Setelah itu, engkau harus melanjutkan perjalanan. Tak peduli dimana pun engkau singgah, jika saatnya tiba engkau harus pergi, maka pergilah. Sayapmu harus terus diasah agar memiliki kemampuan terbang yang mumpuni. Kasih sayang, cinta, rasa kekeluargaan yang muncul saat engkau singgah harus engkau bawa terbang tinggi, simpanlah di langit dan cukup dengan menamakannya “kenangan”. Saat rindu menyeruak cukup kau tengadahkan wajahmu ke langit. Bukankah setiap pertemuan selalu berjodoh dengan perpisahan?

Perjalanan berikutnya harus benar-benar dilalui meskipun sulit. Persinggahan ini telah membawaku pada satu titik bernama keluarga. Tetangga yang begitu banyak. Satu atap yang dihuni puluhan kepala keluarga telah menciptakan sahabat-sahabat yang sangat luar biasa hadir dalam kehidupanku. Aku yang tiga tahun pertama lebih memilih berdiam dalam sangkar, akhirnya menemukan banyak kerabat di satu tahun terakhir. Mereka begitu luar biasa, meski tidak terlahir dari rahim yang sama tapi aku merasa mereka bagian dari keluarga.

Sanak famili sudah tentu yang utama,tapi kehadiran mereka menciptakan rasa yang sama seperti keluarga.

Aku sangat bersyukur, karena sudah sepatutnya aku mensyukurinya. Malu rasanya jika masih ada Nikmat Tuhan yang aku dustakan.

Dua Minggu lagi. Semoga aku mampu. Melangkah. Meski berat. Waaahhhh. Aku pasti merindukan kalian. Sangat. Sungguh. Jika masih ada pilihan untuk tetap singgah disini. Mungkin aku akan mengambilnya. Sayangnya takdir berkata lain. Aku harus melanjutkan perjalanan. Mengelilingi bumi yang masih begitu luas ini….

Semoga gerimis enggan mengiringi perpisahan kita. Karena aku tak ingin sapu tanganku dibanjiri kesedihan.

 

Sudah Di Ubun-ubun

Published Desember 21, 2016 by littlepipit

Rasanya sudah di puncak gunung merapi. Laharnya sudah mulai mendidih, ingin rasanya segera menyemburkannya. Katakanlah bahwa kesabaran ada ujungnya, dan ini adalah akhir dari kesabaran yang tak lagi sanggup tertahankan. Kamu yang hobynya membuat status di FB, membuka aib orang lain ke khalayak ramai, telah membuat saya jengah dan kesal luar biasa. Ditambah lagi, kamu yang hobynya membesar-besarkan masalah, jangan kamu kira hanya dengan lewat WA setiap masalah yang timbul kemudian dapat diselesaikan. Segalanya kamu salahkan saya, anak saya, suami saya, mau kamu apa sebetulnya. Bilangnya kalau berani ngomong ajah langsung, minta maaf ajah langsung ke kamu, tapi kamu sendiri cuma bisa mengumbar tulisan lewat FB dan WA. Mana ada ngomong langsung sama saya.
Saya komplain status kamu di FB yang membicarakan anak saya, tapi kamu malah marah-marah. Kamu rmenganggap seolah-olah saya bodoh, kamu maki-maki saya seenak hati kamu, cuma gara-gara koment saya di status kamu yang menjelek-jelekkan anak saya. Kamu bilang “dipikir dulu dong kalau koment, kan dibaca banyak orang?” (WA kamu waktu itu). Gue naik pitam “kamu waktu bikin status dipikir dulu ga?”.

 

Ah sudahlah..

bersambung

Kisah Sang Tita

Published September 5, 2016 by littlepipit

Kisahnya seperti dalam sinetron. Bahkan lebih rame daripada sinetron. Kalo pernah nonton sinetron tukang bubur naik haji yang sudah mencapai ribuan episode itu atau sinetron ank jalanan yang lagi ngehits di kalangan anak muda, dijamin kisah ini lebih seru dari dua sinetron ga mutu yang saya sebutkan tadi.
Kisahnya bahkan harus sampai berurai air mata dan diliputi sedikit mistis yang aneh.
Hahahaha
Tapi belum akan saya kisahkan dulu karena belum mendapatkan izin dari sang aktris..
Pissss boyennnkkkk
hahahahah

Rumah Itu

Published Agustus 12, 2016 by littlepipit

Hampir setahun yang lalu, saya yang sudah membuahkan dua orang bocah yang gagah-gagah akhirnya melambaikan tangan pada kamera. Rasa-rasanya ingin berhenti sejenak dari rutinitas yang cukup menguras energi dan pikiran. Fokus melukis senyuman di mulut bayi-bayi kecil yang lucu dan menggemaskan. Tanpa gangguan apapun, tanpa harus berlari membagi waktu kesana-kemari yang terkadang tidak membuahkan hasil yang menggembirakan.

Sore itu, hujan datang begitu deras di kedua pipi saya, membuat kedua mata saya lebam kemerahan. Tangis itu tak lagi sanggup dibendung. Beruntung lelaki yang baik hati itu dengan penuh cinta dan kesabaran menyodorkan bahunya, jadilah saya yang sedang dalam kondisi rapuh serapuh-rapuhnya bersandar padanya, memeluknya erat, sangat erat, tergugu tiada henti. Tangan lembutnya membelai kepala saya dengan damai. Alhamdulillah.

Lelakiku tak pernah mengucapkan sepatah katapun saat kisah luka hati ini membuncah begitu saja, meluncur deras dari mulut ini tiada henti. Ia hanya mengangguk, tersenyum, dan memberi kekuatan dengan kedipan yang menentramkan. Beruntung rasanya memiliki suami sepertinya.

Rumah itu, rasanya tak sanggup lagi saya jaga dengan baik. Rasanya seperti dkhianati, tapi mungkin tidak, karena saya yakin mereka tidak pernah bermaksud mengkhianati. Mungkin saja saya sedang membutuhkan waktu berhenti sejenak sampai pada batas waktu yang tidak bisa dipastikan. Sebentar atau lama. Saya tidak tahu.

Puncak rasa pahit itu bermula saat saya merasakan kesendirian yang berkepanjangan. Semuanya saya kerjakan sendiri. Menyiapkan tempat, mengundang acara, menyiapkan konsumsi, menyiapkan transportasi, menjadi MC bahkan menjadi pemateri sekaligus. Belum harus mengkondisikan anak-anak yang luar biasa tingkah lakunya itu, ditambah dua anak saya yang menangis, belum ini, belum itu. Begitu setiap bulannya setiap ada agenda pembinaan orang tua. Rasanya kepala saya mau pecah. Tapi beberapa waktu saya berusaha menikmatinya. Bahkan di saat beberapa relawan datang dengan sms atau wa yang tampak mengajak saya berdebat tentang program-program yang saya rencanakan dan saya lakukan yang mungkin kurang berkenan di mata mereka. Saya tetap menikmatinya.

Hampir setiap hari pintu rumah saya digedor-gedor orang. Tampak seperti teror yang menyebalkan. Para orang tua dan anak-anak itu meminta jatah uang yang mereka dapatkan dari pemerintah agar bisa diambil saat itu, padahal saya sudah menjadwalkan agar mereka mengambil uang satu bulan satu kali, biar ga cepet habis tabungannya. Berbagai alasan mereka kemukakan, dari mulai sakitlah, kebutuhan sekolah yang mendesak, butuh buat modal usaha, sampai ada saudara yang meninggal dunia. Tapi setelah saya kasih uang dan kroscek ternyata saya dobohongin. Gimana kagak kecewa coba…
Sampai-sampai minta uang jajan atau minta uang buat nambal sepeda pun anak-anak itu gedor-gedor rumah saya dengan kerasnya. Disinilah saya mulai merasa Privacy saya terganggu. Karena saya butuh istirahat. Maaf kalau saya egois.

Saya akhirnya melambaikan tangan. Dan ini bulan kedelapan saat saya memutuskan untuk melakukan itu. Meski tidak berhenti total, karena saya masih memantau mereka dari jauh, masih membebaskan mereka dari razia satpol pp, masih memikirkan solusi dari masalah yang ada, seperti mencari solusi buat anak perempuan yang sedang mengidap HIV. Saya tahu kerja saya sekarang tidak segesit dulu, karena ada tiga lelaki di rumah kecil kami yang harus saya perhatikan dengan baik. Tapi saya masih care pada “rumah itu”. Rumah yang saya dan para relawan lain bangun bersama-sama. Baik secara fisik maupun rohani.

Sekarang saya memiliki kesibukan sendiri. Berdagang. Masih saya dengar dari kabar burung tentang rumah itu dan penghuninya. Saya kini mungkin sudah bukan siapa-siapa lagi di sana, tak pernah ada rencana kegiatan yang disampaikan lagi pada saya. Saya bahkan melewatkan malam berbuka puasa bersama mereka dan para relawan lama yang kemudian datang kembali. Seseorang mengatakan kepada saya, katanya saya seolah-olah sudah tidak perduli lagi kepada mereka. Selama ini tidak mengurus mereka dengan baik. Tampaknya saya sudah di cap yang tidak enak (hahahah suudzan). Tapi biarlah…

Saya tidak mengharapkan apa-apa dari apa yang saya lakukan untuk mereka selain mengharapkan kebaikan untuk mereka. Itu saja.

Sekarang saya punya kesibukan lain yang jauh lebih mengasyikkan. Berdagang membuat saya bertemu dengan anak-anak sekolahan yang unik. Dan saya menikmatinya…

Terserah orang lain mau ngomong apa tentang saya. Toh saya masih tetap cantik (kata anak saya “umi cantik”)… Hahahahah

Kangeun Nulis

Published Agustus 9, 2016 by littlepipit

Entah udah berapa lama saya tidak menulis disini. Rasanya kangeun luar binasah mencurahkan segala sesuatu yang terjadi di kehidupan ini. Penting ataupun ga penting yang penting gue nulis. Ga penting yang baca suka atau kagak karena itu ga penting buat sayah. Karep weeehhh…

 

Sayah juga kurang suka dengan tulisan yang rapi dan teratur, saya lebih suka menuliskan¬† sesuatu saketuk ketuknya di kiboard(teuteup yaa dari dulu ga pinter-pinter bahasa inggrisnyaaa) hahahahah… Bae aahhh…

 

HHaaaaahhhh… Sudah ada gangguan lageh… Lanjut lagi nanti.

kapan???

Kapan-kapan…

hahahahah